Mendengkur saat tidur sering dianggap sebagai hal biasa, terutama jika seseorang merasa tetap bugar keesokan harinya. Padahal, pada sebagian orang, suara dengkuran dapat menjadi tanda adanya sleep apnea, kondisi ketika pernapasan berhenti dan kembali berulang kali selama tidur. Karena terjadi ketika seseorang tidak sadar, gejalanya sering baru diketahui setelah mengganggu kualitas tidur atau kesehatan dalam jangka panjang.
Apa Itu Sleep Apnea dan Bagaimana Gangguan Ini Terjadi?
Secara medis, sleep apnea merupakan kondisi ketika pernapasan berhenti sementara selama tidur. Pada obstructive sleep apnea (OSA), penyebabnya adalah saluran napas yang menyempit atau tertutup sehingga aliran udara terhambat. Kondisi ini dapat membuat kadar oksigen menurun dan tubuh berulang kali melakukan respons untuk kembali bernapas.
Istilah apnea merujuk pada berhentinya aliran napas untuk sementara, sedangkan hipopnea menggambarkan penurunan aliran napas yang tidak sepenuhnya berhenti. Keduanya dapat mengganggu pola tidur.
Jenis yang paling umum adalah OSA. Ada pula central sleep apnea (CSA), yang terjadi ketika otak tidak mengirimkan sinyal pernapasan secara normal. Sementara itu, mixed sleep apnea merupakan kombinasi mekanisme obstruktif dan sentral.
Mengapa Sleep Apnea Sering Tidak Disadari?
Masalahnya, sebagian besar tanda sleep apnea muncul ketika seseorang sedang tidur. Penderita mungkin tidak mengetahui bahwa napasnya berhenti berkali-kali dalam semalam. Bahkan, terbangun sesaat untuk kembali bernapas tidak selalu diingat pada pagi hari.
Di sinilah pasangan atau anggota keluarga dapat berperan. Mereka mungkin mendengar dengkuran keras yang diselingi keheningan, kemudian diikuti suara seperti terengah-engah atau tersedak. Pengamatan sederhana tersebut dapat menjadi alasan penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
7 Gejala Sleep Apnea yang Perlu Diwaspadai
Mendengkur memang tidak selalu berarti seseorang mengalami sleep apnea. Namun, perhatian lebih perlu diberikan jika dengkuran disertai gejala berikut:
- Mendengkur keras dan berulang, terutama hampir setiap malam.
- Napas berhenti sesaat saat tidur, yang biasanya lebih mudah diamati oleh pasangan.
- Terbangun karena tersedak atau megap-megap, seolah tubuh kesulitan mendapatkan udara.
- Sering terbangun pada malam hari tanpa penyebab yang jelas.
- Sakit kepala saat bangun tidur, yang dapat muncul setelah tidur yang tidak berkualitas.
- Mulut terasa kering pada pagi hari, terutama jika sering bernapas melalui mulut ketika tidur.
- Mengantuk dan sulit berkonsentrasi pada siang hari, meskipun merasa sudah tidur cukup lama.
Jika pola tersebut terjadi berulang, keluhan sebaiknya tidak dianggap sekadar kelelahan biasa.
Apa Faktor yang Meningkatkan Risiko Sleep Apnea?
Risiko dapat meningkat pada orang dengan berat badan berlebih karena jaringan di sekitar leher dapat mempersempit saluran napas. Struktur anatomi tertentu, seperti ukuran lidah, rahang, atau bentuk saluran napas, juga dapat berpengaruh.
Usia turut menjadi salah satu faktor. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, terutama menjelang tidur, juga dapat memperburuk penyempitan saluran napas. Riwayat keluarga menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.
Apa Dampak Sleep Apnea Jika Tidak Ditangani?
Tidur yang berulang kali terputus dapat membuat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang optimal. Akibatnya, seseorang dapat mengalami kelelahan kronis, mengantuk pada siang hari, dan mengalami penurunan konsentrasi.
Dalam jangka panjang, sleep apnea juga berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi dan masalah kardiovaskular. Rasa kantuk berlebihan bahkan dapat meningkatkan risiko kecelakaan ketika berkendara atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan kewaspadaan.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Sleep Apnea?
Diagnosis biasanya dimulai dari wawancara mengenai keluhan, kebiasaan tidur, riwayat kesehatan, serta informasi dari pasangan atau keluarga. Dokter kemudian dapat melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat faktor yang mungkin berhubungan dengan penyempitan saluran napas.
Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan polisomnografi atau sleep study untuk memantau pola napas, kadar oksigen, aktivitas tubuh, dan parameter lain selama tidur. Pada pasien tertentu, pemeriksaan home sleep apnea testing dapat menjadi pilihan untuk dilakukan di rumah sesuai penilaian dokter.
Kapan Seseorang Perlu Memeriksakan Diri ke Dokter?
Jangan menunggu sampai keluhan semakin berat. Pemeriksaan sebaiknya dipertimbangkan jika Anda mendengkur keras dan mengalami jeda napas, sering terbangun karena kesulitan bernapas, atau mengalami kantuk berlebihan pada siang hari.
Perhatian juga diperlukan jika Anda memiliki tekanan darah tinggi yang disertai tanda gangguan tidur, terutama ketika keluhan tersebut berlangsung berulang dan memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Kesimpulan
Mendengkur tidak selalu merupakan tanda penyakit. Namun, ketika dengkuran disertai jeda napas, tersedak saat tidur, sering terbangun, atau kantuk berlebihan pada siang hari, kondisi tersebut layak diperiksa.
Jika Anda mengalami gangguan tidur, segera periksakan diri ke klinik atau rumah sakit terdekat. Bagi Anda yang berada di Malang dan sekitarnya, kunjungan non-darurat dapat dilakukan dengan memanfaatkan pendaftaran online Persada Hospital atau mengecek jadwal dokter Persada Hospital sebelum datang.
Bila keluhan disertai kondisi darurat atau gangguan napas berat, segera cari pertolongan medis darurat.
Persada Hospital
Email: info@persadahospital.co.id
Telepon: (0341) 299 6333
WhatsApp: 0811 3058 8585
Emergency: (0341) 299 6299
Alamat: Kompleks Araya Business Center, Jl. Raden Panji Suroso Kav. II-IV, Purwodadi, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126
Website: https://persadahospital.co.id/